Mengenal 4 Huruf Pertama

Ayo Belajar Ngaji | Belajar Cepat Baca Quran Metode SMART lama sekali nggak update. Kali ini saya akan posting ulang Pelajaran Pertama yaitu Mengenal Hijaiyah 1. Seperti yang kita lihat di video pembelajaran 1 bahwa huruf hijaiyah itu terdirin dari 28 huruf. Sebagaimana Al-Quran diturunkan secara bertahap, maka belajar membaca Al-Quran harus tahap demi tahap pula. Kali ini kita akan mengenal 4 huruf pertama.

Sebelumnya kita ta’aruf dulu, NaMaSaYa Waluyo Al-Fadhil. Ingat ya? Ini yang menjadi kata kunci pertama NaMaSaYa. Pelajaran ini kita mengenal empat huruf dulu yaitu huruf Na-Ma-Sa-Ya lihat disini. Silakan diulang-ulang, sehingga huruf-huruf itu secara otomatis kita hapal di luar kepala,, hehehe… Dibaca sekali, dua kali, tiga kali.

Belajar Al-Quran dengan metode SMART memadukan dengan tajwid warna, karena metode pewarnaan ini akan mempermudah kita didalam belajar, maka pada kolom terakhir huruf-huruf saya warnai berbeda antara huruf yang diawal, ditengah dan diakhir. Huruf diawal saya beri warna merah, ditengah saya beri warna hitam dan huruf yang diakhir saya beri warna hijau, walaupun bentuknya agak berbeda tapi huruf tersebut sama. Perhatikan dan konsentrasi….

Baris berikutnya adalah latihan membaca, baris atas adalah huruf-huruf yang belum digabung, sedang baris bawah huruf tersebut sudah digabung. Bacaannya sama.

Baris terakhir sebagai sarana latihan, sengaja saya hilangkan warnanya menjadi hitam semua karena untuk evaluasi sudahkah kita menguasai huruf-huruf tersebut. Jika ada huruf-huruf yang lupa silakan kembalikan kata kuncinya insyaallah akan ketemu. Seringnya kita baca akan memudahkan kita dalam belajar… Niat yang lurus dan tetap Semangat…

Al-Qur’an, Best Seller Ever

Oleh: Miruka Angguna

Tepat pada tanggal 17 Ramadhan, Al-Qur’an lahir ke dunia melalui utusan Allah SWT, nabi Muhammad SAW. Pada peristiwa tersebut surat Al-Alaq: 1-5 turun ketika nabi Muhammad sedang berada di Gua Hira. Al-Qur’an adalah sebuah kitab suci yang berisi murni firman Allah SWT, sebagai pedoman hidup ciptaan-Nya selama di dunia hingga perbekalan spesial menuju akhirat nanti. Allah SWT telah menyediakan hidangan Al-Qur’an yang sangat nikmat teruntuk santapan hati dan jiwa manusia.

Pernahkah berpikir sendiri apa sebabnya ketika seseorang sedang dirundung gelisah ia malah bergegas membuka mushaf? Kemudian seketika membaca ayat-ayat suci-Nya, dan seketika itu pula ia menyatakan bahwa hatinya sudah kembali damai dan tenang. Sekali lagi hanya dengan membaca ayat suci-Nya. Padahal orang itu bukan pembelajar bahasa Arab, sudah pasti tak mengerti apa makna ayat-ayat yang dibacanya. Lalu mengapa ada rasa tenang di hati saat hanya membaca saja? Padahal tak tahu maknanya? Mari buka mushaf, dan jawabannya ada di surat ke-13, ayat 28,

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Qs. Ar-Ra’d: 28)

Tapi kini yang banyak dicari sebagai pelipur hati, pemompa semangat, atau petunjuk kehidupan adalah selain Al-Qur’an. Novel-novel fiksi yang ada cap best seller atau buku karangan best writer yang memiliki ratusan kiat yang dibilang ampuh mengatasi segala masalah, kegalauan, dan semacamnya. Lalu bagaimana dengan Al-Qur’an? Semoga intensitas pertemuan kita dengan Al-Qur’an-Nya lebih sering dibanding dengan buku karangan best writer manapun. Namun realita berkata bahwa membaca novel lebih mudah khatam dalam tiga hari dibanding membaca Al-Qur’an yang khatamnya bisa jauh lebih dari tiga hari. Yuk, sadar sesadar-sadarnya 🙂 bahwa Al-Qur’an itu lebih keren. Ciptaannya BEST WRITER! Bahkan sangat menakjubkan tingkat pencetakannya lebih banyak dari buku manapun! Best seller! Dari benua Asia, Australia, Amerika, Eropa, hingga Afrika, semua dapat menikmatinya. Tak seperti buku best seller lain yang tingkat pencetakannya terbatas, tak merata, juga tak diproduksi secara kontinyu.

Saya yakin jikalau Allah SWT dinominasikan ke dalam sebuah penobatan Best Writer, pasti Allah SWT-lah Sang Juara Satu bertahan selamanya. Dan pastinya di cover Al-Qur’an sudah terdapat cap ‘Best Seller In The World Forever’. Jelas sudah, Al-Qur’an dimiliki, dicintai, dijaga, dan paling sering dibaca berulang kali oleh setiap umat Muslim di seluruh dunia, di setiap benua, di pelosok mana pun, di ranah apapun. Karena kitab suci yang satu ini yang wajib dimiliki oleh setiap umat muslim untuk dibaca, diamalkan, dihafal, dipelajari, dikaji, ditadaburi, juga sebagai tutorial hidup, pengobat hati, penenteraman jiwa, dan banyak lagi. Super sekali bukan??? Tak ada satu pun penulis di dunia ini yang dapat menandingi-Nya. Sekalipun yang karyanya dibilang sudah mendunia seperti William Shakespeare, Stephenie Meyer, atau J.K Rowling. Tak akan ada yang mampu mengalahkan hasil karya cipta sang BEST WRITER Yang Maha Esa. Mana ada penghafal novel? Pentadabur roman? Atau mana ada novel penenteraman jiwa, cerpen pengobat hati? Yang ada hanya inspiratif…

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an sebagai peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (Qs. Al-Qamar: 32)

Pernah di sebuah Focus Group Discussion kampus, kakak tingkat saya bercerita mengenai keistimewaan dan mukjizat Al-Qur’an. Beliau menjelaskan, bahwa Allah SWT benar-benar perangkai kata Yang Maha Hebat!! Apalagi ketika melukiskan suatu peristiwa lampau maupun yang akan datang. Allah SWT menggambarkan dengan sangat sempurna, hingga pembaca dapat merasakan atmosfernya. Mari sama-sama membayangkan, meresapi ketika Allah SWT melukiskan keadaan golongan kanan di hari kiamat pada ayat,

“Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata, mereka bersandar di atasnya berhadap-hadapan, mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas-cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak mabuk, dan buah-buahan apapun yang mereka pilih, dan daging burung apapun yang mereka inginkan, dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik, sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Al-waqi’ah) 

Subhanallah… itulah gambaran balasan-balasan atas segala kebajikan yang pernah kita perbuat, pasti Allah beri penghargaan.

Melalui Rasulullah SAW-lah Allah SWT menurunkannya, kemudian disusun menjadi sebuah kitab suci maha sempurna bernama Al-Qur’an. Tanpa revisi kedua, ketiga, atau keempat. Tanpa perubahan. Sejak awal Al-Qur’an benar-benar murni pemberian Allah SWT untuk kita, manusia ciptaan-Nya. Pun kita sebagai manusia ciptaan-Nya wajib memelihara pemberian-Nya, nah yang ini dari kita untuk Allah SWT Sang Maha Pencipta.

Lalu apalagi yang dapat meruntuhkan niat, menggoyahkan ikhtiar untuk istiqamah mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an? Kitab suci Best Seller ever yang ciptakan oleh Best Writer ever, Allah SWT. Kitab suci yang hanya dengan membacanya saja bisa memberikan dua hadiah besar, di dunia dapat rahmat, di akhirat dapat syafa’at. Allahu Akbar! Mari menjadi generasi yang saling mengingati untuk selalu mengagungkan dan mencintai Al-Qur’an, bangga membaca dan mengimaninya di manapun kita berada, berpedoman dan beramal darinya setiap saat. Terakhir, Ya Allah curahkanlah rahmat kepadaku dengan Al-Qur’an, dan jadikan Al-Qur’an sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku. Ya Allah, ingatkanlah aku terhadap apa yang telah aku lupakan dari Al-Qur’an. Ajarilah aku apa-apa yang belum aku ketahui dari Al-Qur’an. Anugerahilah aku kemampuan untuk senantiasa membacanya sepanjang malam dan siang. Jadikanlah Al-Qur’an hujjah bagiku (yang dapat menyelamatkanku) wahai Tuhan seru sekalian alam.

Adakah Al-Qur’an Dalam Hati Kita

               Rutinitas kerja dan kesibukan dunia yang tiada habisnya, sering menjadi penyebab dari hati yang kering, meranggas, dan gersang dari sumber mata air iman yang menyejukkan. Ibarat kafilah yang melintas di padang pasir dengan muatan harta yang berlimpah, ia menjadi tidak bernilai tatkala kehausan (dehidrasi) memenuhi sekujur raganya.  Setetes air, yang tatkala dalam kondisi wajar harganya tiada seberapa, menjadi bernilai luar biasa dalam kondisi jiwa yang dirundung kegersangan tiada tara.

                Itulah fitrah dari orang-orang beriman, yang senantiasa mendamba nilai-nilai yang mampu menyuburkan keimanannya. Itu pula yang dirasakan sekelompok Muslimah yang bekerja sebagai karyawati atau eksekutif di salah satu gedung perkantoran kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Di tengah kondisi berkecukupan karena manfaat (benefit) dari status karier yang dimilikinya, hati mereka sebenarnya tidak sepenuhnya tercukupi kebutuhannya. Jiwa mereka dahaga. Mereka mendamba keluasan hati laksana samudera, kesejukan jiwa laksana embun di pagi hari, dan kedamaian laksana bunyi debur ombak yang menentramkan jiwa.

                Sebagai anggota komunitas yang menghuni kawasan perkantoran modern, para Muslimah itu tentu tidak ketinggalan informasi aktual khususnya menyangkut informasi keIslaman dan keimanan, baik berupa taujih, taushiyah, perenungan, tafakkur, atau kisah-kisah singkat yang sarat pesan dan inspirasi tentang bagaimana seharusnya mengelola kehidupan menuju ridha-Nya. Namun semua itu rasanya tiada cukup manakala mereka belum berinteraksi dan bersentuhan langsung dengan sumber penawar dahaga keimanan, yaitu Al-Quran.

                Sudah masyhur di tengah perbincangan mereka bahwa bagi yang membaca Al-Qur’an, maka satu huruf yang dibacanya berbalas dengan sepuluh kebaikan. Dan bukanlah “Alif Lam Mim” itu satu huruf, akan tetapi “Alif” satu huruf, “Lam” satu huruf, dan “Mim” satu huruf. Luar biasa, dengan membaca “Alif Lam Mim” saja, pembaca Al-Qur’an sudah mendapatkan tiga puluh kebaikan. Subhanallah. Ketakjuban terasa memenuhi relung jiwa mereka. Ini baru membaca saja. Apatah lagi jika memahami isinya dan apatah lagi jika ayat-ayat itu diamalkan dalam kehidupan nyata. Tentu, pribadi-pribadi yang dihiasi dengan nilai Al-Qur’an akan memancarkan kedamaian dan kesejukan yang luar biasa. Jiwanya penuh kebaikan. Dan kebaikan itu tidak melahirkan apapun selain kebaikan yang berlipat.

                Sungguh indah gambaran seorang pembaca Al-Qur’an, pohonnya bagus dan buahnya wangi. Itu adalah balasan Allah di dunia. Dan di akhirat Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi pembacanya sehingga ia terhindar dari jilatan api neraka yang menyala-nyala.  Sekelompok Muslimah itu jelas tersentuh mendengar kabar gembira ini, dan motivasi untuk segera mewujudkannya semakin membesar dan menggelora di dada.

                Langkah pertama yang dilakukan mereka adalah menghubungi guru tahsin Al-Quran di kawasan Bekasi. Mereka mengemukakan hasrat keinginan belajar baca Al-Qur’an kepada guru itu.  Ada sedikit kegamangan dari para guru untuk memenuhi keinginan sekelompok Muslimah di gedung perkantoran itu karena lokasinya yang cukup jauh. Jika yang harus berangkat adalah seorang guru laki-laki, barangkali lokasi yang jauh tidak cukup bermasalah.

                 Bagi guru Muslimah yang harus memfokuskan diri pada tugas-tugas kerumahtanggaan, hadir ke lokasi yang jauh cukup terasa memberatkan. Tidak sekedar dibutuhkan waktu dan energi yang cukup besar yang boleh jadi tidak sebanding dengan honor yang akan diterima, guru Muslimah itu boleh jadi lebih nyaman mengajar di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, sehingga masih bisa memantau keadaan anak-anak yang diasuhnya.

                Syukurlah, ada seorang guru yang menaruh perhatian kepada mereka. Bagi sang guru itu, keinginan belajar dari se-kelompok Muslimah di perkantoran itu ibarat benih yang harus di-pelihara dan di-sediakan media pertumbuhannya. Alangkah sayangnya jika benih itu dibiarkan mati sebelum ditanam.

                 Dakwah harus ditegakkan. Dakwah yang sejatinya adalah menumbuh suburkan kebaikan, baik pada diri sendiri maupun orang lain, memang membutuhkan pengorbanan yang tiada kecil dari para pelakunya.

                Langkah kedua setelah mereka mengetahui bahwa keinginan mereka bakal terwujud, mereka segera berkoordinasi menyediakan waktu luang dan menyediakan tempat yang memadai untuk belajar baca Al-Qur’an. Mereka berpatungan untuk mendukung operasional kegiatan.

                Layaknya organisasi mereka membentuk ketua, bendahara, dan sekretaris. Pengetahuan organisasi yang mereka miliki, mereka terapkan guna kelancaran dan keberhasilan proses belajar dan mengajar.

***

                Tidak semua upaya yang dilakukan oleh beberapa kelompok Muslimah untuk menghadirkan guru tahsin menemukan kemudahannya. Bagi sekelompok Muslimah di perkantoran itu, bisa mendatangkan seorang guru untuk hadir ke kantor menyambangi mereka adalah satu hal yang patut disyukuri. Pertama, pertimbangannya tentu karena untuk datang sendiri-sendiri ke lembaga tahsin pada hari Sabtu atau Ahad, bagi mereka adalah suatu pekerjaan yang teramat berat karena mereka merasa harus siaga di rumah men-dampingi suami dan anak-anak, sebagai kompensasi ke-tidakhadiran mereka pada hari-hari lainnya akibat bekerja di kantor.

                Kedua, mereka menemukan guru yang mau membimbing mereka karena dorongan kecintaan untuk menyebarkan nilai-nilai Qur’an. Meski dirasakan cukup berat, Sang guru itu berkomitmen melangkahkan kaki ke gedung perkantoran guna mengajari ibu-ibu dan para Muslimah yang dahaga dengan bacaan Al-Qur’an.

                Kadang untuk pergi ke sana, sang guru tidak segan menumpang taksi untuk mengejar ketepatan waktu pembelajaran. Terkadang pula, sang guru harus berhimpit-himpitan beberapa kali naik moda transportasi, menahan lelah akibat mengurus anak-anak sebelumnya dan berjuang melawan asap rokok dan debu-debu yang beterbangan di sekelilingnya. Ya, kondisi badannya memang rentan. Tetapi kecintaan kepada ibu-ibu dan kaum Muslimah yang mendamba oase iman dari lautan kalam Ilahi itu, menjadikannya harus melupakan kondisi berat yang kadang dijumpainya.

                Ketiga, mereka mendapatkan guru bukan sembarang guru. Tetapi guru dari lembaga tahsin tepercaya, yang telah memiliki kurikulum baku dalam pengajaran baca Al-Qur’annya. Menyadari keberuntungan-keberuntungan itu, mereka pun berlatih dengan keras dan berdisiplin. Alhamdulillah, dalam jangka waktu tidak lama, mereka pun mampu membaca Al-Quran secara baik.

***

                Sebagian besar ummat Islam saat ini, tidak dipungkiri, memiliki tingkat kedekatan yang rendah dengan Al-Qur’an. Jangankan berbicara masalah penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan, pemahaman akan isi dan kandungan Al-Qur’an sebagian besar ummat Islam pun masih terasa sangat kurang. Terbukti makin merebaknya aliran-aliran sesat yang menyusup di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

                Terlepas apakah me-rebaknya aliran sesat itu adalah wujud konspirasi atau bukan, seharusnya fenomena-fenomena itu menyadarkan seorang Muslim untuk lebih dekat kepada sumber agamanya. Salah satunya dengan belajar dan berlatih berinteraksi lebih dekat dengan Al-Qur’an, yang dimulai dengan interaksi dengan cara belajar membacanya.

                Betapa banyak orang mengaku tidak bisa membaca Al-Qur’an, tetapi tidak banyak yang menindaklanjuti dengan membentuk kelas pengajaran seperti dilakukan oleh para Muslimah di perkantoran itu.

                Betapa banyak orang yang mengaku dahaga dan jiwanya kering, tetapi mereka malah hanyut dengan lagu-lagu “ruhani”, bukan berinteraksi sedekat-dekatnya dengan Al-Qur’an penyubur jiwa.

                Tidak semua orang bisa peduli dengan Al-Qur’an, padahal Al-Qur’an adalah salah satu pusaka (selain Al-Hadits) yang mampu menyelamatkan kehidupan manusia, baik di dunia ini maupun sesudahnya, dari malapetaka dan mara bahaya. Tidak semua orang bisa menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an di relung jiwa. Hanya mereka yang berhati bersih dan ikhlas saja lah yang mampu melakukannya.

                Ada baiknya setiap hamba bertanya kepada diri masing-masing “sudah adakah Al-Qur’an dalam hatiku?” Ya, sebab jika bukan Al-Qur’an yang ada dalam hati, berarti ada nilai-nilai non-qur’ani yang bersarang dan mendominasi jiwa, yang boleh jadi bukan menuntun akan tetapi menyesatkan sang hamba dari jalan kebenaran.

                Nampaknya, kita perlu belajar dari kaum Muslimah dalam kisah tersebut yang berusaha memenuhi relung jiwanya dengan Al-Qur’an. Meski baru hendak belajar membacanya, hal Itu adalah awal mula yang sangat baik, sebab hanya dengan belajar kesuksesan dunia atau akhirat pun bisa diraih dan dikejar.

Waalahua’lamu bishshawaab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/