Download CD Ayo Belajar Ngaji Jilid 2

Admin Blog Ayo Belajar Ngaji | Belajar Cepat Baca Quran Metode Smart banyak sekali menerima pertanyaan baik melalui sms, email maupun komentar terkait dengan cara download CD Ayo Belajar Ngaji Jilid 2. Pada posting ini saya hanya ingin menegaskan bahwa CD Ayo Belajar Ngaji Jilid 2 hanya bisa didownload melalui email khusus bagi yang sudah donasi. Terkait dengan donasi saya tidak pernah menentukan besarannya, silakan berapapun sesuaikan dengan kemampuan dan kemanfaatan program ini, yang penting ikhlas saja.

Ayo Belajar Ngaji hanyalah aplikasi sederhana yang bisa dibuka di komputer atau laptop. Program ini saya khususkan bagi yang ingin belajar membaca Al-Quran dari awal terutama bagi yang belum mengenal huruf hijaiyah sama sekali dan hanya untuk orang dewasa tidak cocok untuk anak-anak. Bagi yang ingin tahu metode pembelajarannya silakan download jilid 1 pada sidebar samping kiri warna merah atau yang warna hijau. Pelajari baik-baik, sampai benar-benar anda kuasai huruf-huruf tersebut. Jika tertarik silakan bisa langsung datang ketempat kami atau bagi yang mau donasi (kami sangat berterimakasih) dan dapatkan jilid dua yang bisa didownload via email. Setelah donasi silakan konfirmasi via sms ke nomor 0853 854 37073 

Dapatkan Aplikasi Ayo Belajar Ngaji Belajar Cepat Baca Quran Metode SMART jilid 2 GRATIS dengan langsung silaturrahmi ketempat kami.

CD Ayo Belajar Ngaji, Belajar Cepat Baca Quran Metode Smart Versi 2

Akhirnya CD Ayo Belajar Ngaji Belajar Cepat Baca Quran Metode Smart versi 2 ini dapat kami selesaikan selama kurang lebih tiga bulan. CD versi 2 ini banyak mengalami perubahan terutama bagian-bagian akhir yang saya tambahkan dengan materi-materi hukum tajwid.

Selain materi tajwid saya juga menambahkan kode warna sehingga semakin mudah dalam memahami tanda baca panjang dan pendeknya serta hukum-hukum tajwid tersebut. Hal ini terinspirasi dengan maraknya Al-Quran dengan kode warna tajwid yang banyak beredar akhir-akhir ini yang semakin memudahkan kita untuk belajar Al-Quran.

Versi yang baru ini karena filenya agak besar saya membaginya dengan dua jilid. Jilid 1 bisa langsung didownload di member area khusus bagi free member, sedangkan untuk jilid 2 saya khususkan bagi Premium Member yang sudah donasi.

CD Ayo Belajar Ngaji Belajar Cepat Baca Quran Metode Smart adalah aplikasi belajar Al-Quran mandiri yang saya khususkan bagi pemula yang belum bisa baca Al-Quran, bahkan belum mengenal huruf-huruh hijaiyah. Aplikasi ini praktis, ringkas dan mudah dipelajari, hanya dengan klik tulisannya sudah terdengar bacaannya. Untuk lebih jelasnya bisa didownload dulu contohnya disini.

Walaupun aplikasi ini kami khususkan untuk belajar Mandiri, namun kami tetap menyarankan untuk bertalaqi yaitu belajar kepada seorang guru secara langsung agar bacaan yang kita baca benar sesuai dengan kaidah-kaidah hukum tajwid.

Bagi yang penasaran metode belajarnya silakan daftar gratis disini.

Metode Alternatif Belajar Cepat Baca Quran

Banyaknya metode Belajar Cepat Baca Quran membuat kita semakin mudah mempelajari Al-Quran, terlebih dengan mudahnya kita mengakses internet dimana kitapun bisa belajar secara online. Namun masih banyak juga diantara saudara-saudara kita yang belum begitu paham dengan dunia maya ini.

Nah, alternatif lain adalah kita belajar secara offline. Ayo Belajar Ngaji Online juga melayani Bimbingan secara offline, khusus bagi anda yang berada di wilayah Sukoharjo, Surakarta dan sekitarnya silakan datang dan Belajar Bersama Kami.

Materi pembelajarannya kami buat berupa CD interaktif yang saya kemas secara sederhana, dengan metode yang mudah dipahami. Materi ini bisa juga didownload gratis bagi yang telah mendaftar di Blog Ayo Belajar Ngaji ini. Bagi yang belum daftar silakan daftar dan download materinya dibawah tiap-tiap materi ajarnya.

Khusus bagi yang telah daftar dan donasi, selain saya kirim CD, saya tunjukkan juga metode lain sebagai alternatif yang langsung bisa didownload melalui link dibawah ini.

Kelanjutan artikel ini hanya bisa dibaca oleh Premium Member, silahkan login disini dulu atau Registrasi di sini

Tak Ada Kata Terlambat Belajar Al-Quran

Peluang Belajar Membaca Al-Quran

Dari Aisyah radhiallahu ‘anhu, katanya: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

”Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Subhanallah…Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
Saudaraku,
Ketika kita dihadapkan pada peluang belajar Al Qur’an, sering muncul gangguan-gangguan yang akhirnya membuat kita mundur dan menunda-nunda peluang tersebut. Dan mungkin selalu ada saja alasan yang seakan masuk akal, sehingga kita tidak lagi merasa bersalah ketika mengabaikan tugas yang sangat penting ini.

1. Sudah terlalu tua
Di antara kita mungkin ada yang beralasan, bahwa kita sudah terlambat dalam belajar. Masa-masa keemasan kita sudah lewat. Kita sudah terlalu tua untuk dapat mengingat ayat-ayat Al Qur’an dengan baik. Lidah kita sudah terlalu kaku untuk dapat melafalkan huruf dengan fashih.

Padahal tahukah kita, bahwa Rasulullah mulai menghafal Al Qur’an di usia 41 tahun? Tahukah kita bahwa rata-rata usia para sahabat ketika mulai belajar Al Qur’an adalah 30 tahun? Di antara mereka bahkan ada yang mantan perampok, pembunuh, pemerkosa atau pelacur, sementara mereka juga adalah kaum buta huruf? Allahlah yang telah menutup dosa-dosa mereka dengan maghfirohNya. Kemuliaan dan keberkahan akan lahir berkat perjuangan mereka sendiri.  Allah berfirman,

Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka mau merubah diri mereka sendiri.

Ada pepatah mengatakan,

Belajar di masa kecil seperti mengukir di atas batu, sementara belajar di masa tua seperti mengukir di atas air

Ini adalah pepatah yang benar adanya. Tapi bukan berarti ia menjadi pembenaran atas berdiam dirinya kita dari upaya ini. Mengukir di atas air memang susah, tapi bukan sesuatu yang mustahil. Kemauan yang kuat akan membekukan air menjadi es. Kerja keras akan menjadikannya karya yang indah. Dan kontinyuitas akan menjaganya sepanjang usia kita. Jadi, masihkah alasan itu kita pergunakan?

2. Kesibukan yang menyita
Alasan kesibukan adalah alasan yang paling sering kita kemukakan. Kita merasa bahwa waktu kita sudah habis oleh ini dan itu. Ketika kita bermaksud untuk belajar Al Qur’an di sebuah halaqoh, tiba-tiba kita menemukan bahwa di waktu tersebut kita memiliki kegiatan yang jauh lebih penting. Akhirnya kita menyerah oleh keadaan. Dan kitapun —lagi-lagi— meninggalkan keinginan tersebut.

Benarkah kita sudah tak memiliki waktu lagi?

Hitunglah berapa jam waktu tidur kita… Berapa jam waktu yang kita habiskan di perjalanan… Juga jam-jam istirahat kita dan jam-jam bersenda gurau dengan orang lain…

Sudahkah semua itu sebanding dengan ibadah harian yang kita kerjakan? Sudahkah kita berlaku adil terhadap waktu kita? Tak bisakah kita menyisihkan waktu untuk Al Qur’an meskipun hanya sesaat? Benarkah tak bisanya kita adalah karena kehabisan waktu?
Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi,

“Barang siapa yang disibukkan Al Qur`an hingga tidak sempat berdzikir dan meminta kepadaKu, niscaya akan Aku berikan sesuatu yang lebih utama dari apa yang telah Kuberikan pada orang-orang yang meminta…”

3. Yang penting pemahaman
Sering ada orang yang bertanya kepada saya ketika ia ingin bergabung dengan halaqoh Al Qur’an. Di antara pertanyaan tersebut adalah, “Apakah belajar Al Qur’an di sini disertai tafsirnya atau hanya belajar membaca saja?”. Sungguh disayangkan ketika akhirnya banyak di antara mereka yang membatalkan keinginannya, hanya karena di sini tidak menyediakan program Tafsir Al Qur’an secara resmi.

Bagi orang yang menganggap bahwa memahami Al Qur’an lebih utama dari membacanya, atau mungkin sebaliknya, cukuplah baginya hadits-hadits Rasulullah berikut ini,

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.”

“Sikap iri tidak diperbolehkan kecuali terhadap dua hal; seseorang yang di beri Al Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang hari…”

“Orang yang pandai membaca Al Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan taat, sementara orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata serta merasa kesulitan akan mendapatkan dua pahala.”

“Bacalah Al Qur’an! Sesungguhnya Al Qur’an akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi sahabat-sahabatnya”

“Dikatakan kepada Shohib Al Qur’an, ‘Bacalah! Naiklah (ke surga) dan nikmatilah (bacaan Al Qur’anmu) sebagaimana kamu menikmati bacaan Al Qur’an di dunia! Sesungguhnya kedudukanmu (di surga) sesuai dengan akhir ayat yang kamu baca.”

Ketahuilah bahwa nilai membaca Al Qur’an, menghafal dan memahaminya adalah sama di hadapan Allah. Membaca adalah kunci pembuka menuju pemahaman. Dan pemahaman akan meyakinkan kita tentang keharusan menghafal Al Qur’an.
Sesungguhnya masih banyak lagi alasan-alasan lain yang sering melintas di benak kita, yang telah dan akan terus menghalangi kita dari belajar dan berinteraksi dengan Al Qur’an. Tapi kita cukupkan pembahasan tentang hal ini, karena semua alasan itu sesungguhnya hanya alasan yag dipaksakan.

Yang perlu kita perbaiki adalah hati. Jika hati baik, maka baik yang lainnya. Jika hati rusak, maka rusak seluruhnya. Di antara penyebab kerusakan hati adalah apa yang diungkapkan oleh Rasulullah,

“Seseorang yang tak ada sedikitpun Al Qur’an dalam hatinya seperti rumah yang rusak”

Sebenarnya Belajar Membaca Al-Quran itu mudah. Buktinya? Silakan download file dibawah ini untuk belajar mandiri hanya di depan laptop atau komputer. Inilah diantara solusinya! silakan DOWNLOAD gratis. Jika tertarik silakan pesan CD Interaktif Ayo Belajar Ngaji, Belajar Cepat Baca Quran Metode Smart.

Pemeliharaan Alquran dari Masa ke Masa

Dalam Alquran surah Al-Hijr (15) ayat 9, Allah berfirman, ”Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya.” Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Alquran selama-lamanya hingga akhir zaman dari pemalsuan. Karena itu, banyak umat Islam, termasuk di zaman Rasulullah SAW, yang hafal Alquran. Dengan adanya umat yang hafal Alquran, Alquran pun akan senantiasa terjaga hingga akhir zaman.

Selanjutnya, demi memudahkan umat membaca Alquran dengan baik, mushaf Alquran pun dicetak sebanyak-banyaknya setelah melalui tashih (pengesahan dari ulama-ulama yang hafal Alquran). Alquran pertama kali dicetak pada tahun 1530 Masehi atau sekitar abad ke-10 H di Bundukiyah (Vinece). Namun, kekuasaan gereja memerintahkan agar Alquran yang telah dicetak itu dibasmi. Kemudian, Hankelman mencetak Alquran di Kota Hamburg (Jerman) pada tahun 1694 M atau sekitar abad ke-12 H. (Lihat RS Abdul Aziz, Tafsir Ilmu Tafsir, 1991: 49). Kini, Alquran telah dicetak di berbagai negara di dunia.

Pemeliharaan Alquran tak berhenti sampai di situ. Di sejumlah negara, didirikan lembaga pendidikan yang dikhususkan mempelajari Ulum Alquran (ilmu-ilmu tentang Alquran). Salah satu materi pelajaran yang diajarkan adalah hafalan Alquran. Di Indonesia, terdapat banyak lembaga pendidikan yang mengajak penuntut ilmu ini untuk menghafal Alquran, mulai dari pendidikan tinggi, seperti Institut Ilmu Alquran (IIQ) hingga pesantren yang mengkhususkan santrinya menghafal Alquran.

Demi memotivasi umat untuk meningkatkan hafalannya, kini diselenggarakan Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ), dari tingkatan satu juz, lima juz, 10 juz, hingga 30 juz. ”Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari). Adanya lembaga penghafal Alquran ini maka kemurnian dan keaslian Alquran akan senantiasa terjaga hingga akhir zaman. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, para penghafal Alquran ini akan ditempatkan di surga. Wa Allahu A’lam.

Ditinjau dari segi bahasa (etimologi), Alquran berasal dari bahasa Arab yang berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca berulang-ulang. Kata ‘Alquran’ adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja (fi’il madli) qaraa yang artinya membaca.
Para pakar mendefinisikan Alquran sebagai kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir dan bagi orang yang membacanya termasuk ibadah. Al-Qur’anu huwa al-kitabu al-Mu’jiz al-Munazzalu ‘ala Muhammadin bi wasithah sam’in aw ghairihi aw bilaa wasithah.

Ada juga yang mendefinisikannya sebagai firman Allah yang tiada tandingannya. Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, penutup para Nabi dan Rasul, dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir yang dimulai dengan surat Alfatihah dan ditutup dengan surat Annas.

Alquran terdiri atas 114 surat serta 30 juz dengan jumlah ayat lebih dari 6.000 ayat. Kalangan ulama masih berbeda pendapat mengenai jumlah ayat Alquran. Ada yang menyebutkan jumlahnya sebanyak 6.236 ayat, 6.666 ayat, 6.553 ayat, dan sebagainya. Perbedaan penghitungan jumlah ayat ini karena banyak ulama yang belum sepakat apakah kalimat Bismillahirrahmanirrahim yang ada di pembukaan surah dan huruf Alif Lam Mim, Alif Lam Ra, Yaa Sin, Shad, dan Qaaf termasuk ayat atau bukan. Inilah yang menyebabkan adanya perbedaan mengenai jumlah ayat. Namun demikian, hal itu tidak menimbulkan perpecahan di antara umat.

Alquran diturunkan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Para ulama membagi masa penurunan ini menjadi dua periode, yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Periode Makkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian Rasulullah SAW. Sementara itu, periode Madinah dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun.

Sedangkan, menurut tempat diturunkannya, setiap surat dapat dibagi kepada surat-surat Makkiyah (ayat-ayat Alquran yang turun di Makkah) dan Madaniyah (diturunkan di Madinah). Surat-surat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan surat Makkiyah, sedangkan setelahnya tergolong surat Madaniyah.

Sementara itu, dari segi panjang-pendeknya, surat-surat yang ada dalam Alquran terbagi menjadi empat bagian. Pertama, As-Sab’u al-Thiwaal (tujuh surat yang panjang), yaitu Albaqarah, Ali Imran, Annisa’, Al A’raf, Al An’am, Almaidah, dan Yunus. Kedua, surat-surat yang memiliki seratus ayat lebih (Al Miuun), seperti surat Hud, Yusuf, Mu’min, dan sebagainya.
Ketiga, surat-surat yang jumlah ayatnya kurang dari seratus ayat (Al Matsaani), seperti surat  Al Anfal, Alhijr, dan sebagainya. Keempat, surat-surat pendek (Al-Mufashshal), seperti surat Adhdhuha, Al Ikhlas, Alfalaq, Annas, dan sebagainya.

Sejarah Pemberian Tanda Baca dan Tajwid

Tentu, tak bisa dibayangkan bagaimana sulitnya membaca Alquran andai hingga saat ini kalam Ilahi itu masih ditulis dalam huruf Arab yang belum ada tanda bacanya sebagaimana di zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin.

Jangankan harakat fathah (baris atas), kasrah (baris bawah), dhommah (baris depan), dan sukun (tanda wakaf, mati), bentuk serta tanda titik-koma (tanda baca) saja tidak ada. Tentu, masih lebih mudah membaca tulisan Arab yang ada di kitab kuning yang gundul (tanpa harakat) karena umat Islam masih bisa mengenali huruf-hurufnya berdasarkan bentuk dan tanda bacanya. Misalnya, huruf ta, tsa, ba, nun, syin, sin, shad, tho’, dan sebagainya walaupun tidak mengetahui terjemahannya.

Beruntunglah, kekhawatiran-kekhawatiran ini cepat teratasi hingga umat Islam di seluruh dunia bisa mengenali dan lebih mudah dalam membaca Alquran. Semua itu tentunya karena adanya peran dari sahabat Rasul, tabin, dan tabiit tabiin.Pemberian tanda baca (syakal) berupa titik dan harakat (baris) baru mulai dilakukan ketika Dinasti Umayyah memegang tampuk kekuasaan kekhalifahan Islam atau setelah 40 tahun umat Islam membaca Alquran tanpa ada syakal.

Pemberian titik dan baris pada mushaf Alquran ini dilakukan dalam tiga fase.

Pertama, pada zaman Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan. Saat itu, Muawiyah menugaskan Abdul Aswad Ad-dawly untuk meletakkan tanda baca (i’rab) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan membaca.

Fase kedua, pada masa Abdul Malik bin Marwan (65 H), khalifah kelima Dinasti Umayyah itu menugaskan salah seorang gubernur pada masa itu, Al Hajjaj bin Yusuf, untuk memberikan titik sebagai pembeda antara satu huruf dengan lainnya. Misalnya, huruf baa’ dengan satu titik di bawah, huruf ta dengan dua titik di atas, dan tsa dengan tiga titik di atas. Pada masa itu, Al Hajjaj minta bantuan kepada Nashr bin ‘Ashim dan Hay bin Ya’mar.
Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan ini, wilayah kekuasaan Islam telah semakin luas hingga sampai ke Eropa. Karena kekhawatiran adanya bacaan Alquran bagi umat Islam yang bukan berbahasa Arab, diperintahkanlah untuk menuliskan Alquran dengan tambahan tanda baca tersebut. Tujuannya agar adanya keseragaman bacaan Alquran baik bagi umat Islam yang keturunan Arab ataupun non-Arab (‘ajami).

Baru kemudian, pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, diberikan tanda baris berupa dhamah, fathah, kasrah, dan sukun untuk memperindah dan memudahkan umat Islam dalam membaca Alquran. Pemberian tanda baris ini mengikuti cara pemberian baris yang telah dilakukan oleh Khalil bin Ahmad Al Farahidy, seorang ensiklopedi bahasa Arab terkemuka kala itu. Menurut sebuah riwayat, Khalil bin Ahmad juga yang memberikan tanda hamzah, tasydid, dan ismam pada kalimat-kalimat yang ada.

Kemudian, pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Alquran, khususnya bagi orang selain Arab, dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa isymam, rum, dan mad.

Sebagaimana mereka juga membuat tanda lingkaran bulat sebagai pemisah ayat dan mencantumkan nomor ayat, tanda-tanda wakaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri atas nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah ‘ain.

Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Alquran adalah tajzi’, yaitu tanda pemisah antara satu Juz dan yang lainnya, berupa kata ‘juz’ dan diikuti dengan penomorannya dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah juz, dan juz itu sendiri.

Dengan adanya tanda-tanda tersebut, kini umat Islam di seluruh dunia, apa pun ras dan warna kulit serta bahasa yang dianutnya, mereka mudah membaca Alquran. Ini semua berkat peran tokoh-tokoh di atas dalam membawa umat menjadi lebih baik, terutama dalam membaca Alquran.

Hukum Bacaan Nun Mati/Tanwin dan Mim Mati.

A. Hukum bacaan nun mati (نْ ) atau tanwin (  ً    ٍ    ٌ    )

Nun mati/tanwin apabila bertemu dengan huruf-huruf hijaiyyah hukum bacaannya ada empat macam, yaitu: Idhhar, idgham, iqlab dan ikhfa.

1. Idhar ( إظْهَارٌ )

Idhar artinya jelas atau terang. Apabila ada nun mati/tanwin (/ نْ ً    ٍ    ٌ   ) bertemu dengan salah satu huruf halqi hukum bacaannya disebut idhar.

Huruf-huruf halqi itu ada enam yaitu:      ا ح خ ع غ ھ

Contoh bacaan idhar:

No Huruf Nun mati (نْ) Tanwin (ً    ٍ    ٌ   )
1

ا

مَنْ أمَنَ

رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ

2

ح

عَنْ حَرَامِكَ

نَارٌ حَامٍيَةٌ

3

خ

مَنْ خَشِيَ

ذَرَّةٍ خَبٍيْرٌ

4

ع

مِنْ عِلْمٍ

سَمٍيْعٌ عَلٍيْمٌ

5

غ

مِنْ غِلٍّ

اَجْرٌ غَيْرُ

6

ھ

مِنْ هَادٍ

جُرُفٍ هَارٍ

2. Idgham ( اِدْغَامٌ )

Idgham artinya memasukkan atau melebur. Apabila nun mati atau tanwin bertemu salah satu huruf dari huruf  ي ن م و ل ر maka wajib dibaca idgham, cara membacanya seolah mentasydidkan nun mati/tanwin (نْ /  ً  ٍ  ٌ  ) ke dalam huruf hidup sesudahnya. Sehingga bunyi nun mati atau tawin tidak terdengar sama sekali.

Idgham terbagi menjadi dua macam, yaitu: idgham bighunnah dan idgham bila ghunnah.

a. Idgham bighunnah ( اِدْغَامٌ بِغُنَّةٍ )

Idgham bighunnah artinya memasukkan atau melebur dengan dengung (ghunnah) yaitu bila nun mati atau tanwin bertemu salah satu huruf idgham bighunnah yang empat yaitu:

Hukum bacaannya wajib dibaca berdengung (bighunnah) dengan meleburkan suara nun mati/tanwin ke dalam huruf yang ada di depannya.

Contoh bacaan idgham bighunnah:

no Huruf Nun mati (نْ) Tanwin ( ً  ٍ  ٌ  )

1

ي

مَنْ يَقُوْلُ

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ

2

ن

مِنْ نِعْمَةِ

حِكْمَةٍ نَافِعَةٍ

3

م

مِنْ مَسَدٍ

عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ

4

و

مِنْ وَرَاءِهِمْ

خَيْرٌ وَاَبْقَى

Ketentuan bacaan idgham bighunnah tidak berlaku lagi jika nun mati berada dalam satu kata. Hukum bacannya wajib dibaca idhar atau bunyi nun mati/tanwin dibaca jelas.

Contoh :         قِنْوَانٌ  ـ  صِنْوَانٌ  ـ  دُنْيَا  ـ  بُنْيَانٌ

b. Idgham bilaghunnah ( اِدْغَامٌ بِلاَ غُنَّةٍ)

Idgham bilaghunnah artinya memasukkan atau melebur tanpa berdengung. Apabila nun mati atau tnwin bertemu dengan salah atu huruf idgham bilaghunnah yaitu ل ـ ر

Hukum bacaannya tidak boleh berdengung tetapi wajib melebur nun mati/tanwin ke dalam huruf sesudahnya.

Contoh bacaan idgham bilaghunnah:

No

Huruf

Nun mati (نْ) Tanwin (  ً  ٍ  ٌ     )
1

ل

مِنْ لَدُنْكَ

هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ

2

ر

مِنْ رَبِّكَ

خَيْرٌ رَازِقِيْنَ

3. Iqlab ( اقلاب )

Iqlab artinya membalik atau mengganti. Apabila nun mati/tanwin bertemu dengan huruf  ب, maka hukum bacaannya disebut iqlab. Cara membacanya adalah bunyi nun mati/ tanwin berubah menjadi bunyi mim ( مْ) Huruf iqlab hanya satu yaitu huruf ب

Contoh bacaan iqlab:

No

Huruf

Nun mati (نْ )

Tanwin (ً  ٍ  ٌ   )

1

ب

مِنْ بَعْدِهِمْ

سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ

4. Ikhfa ( اِخْفَاءٌ)

Ikhfa artinya menyamarkan/menyembunyikan bunyi nun mati atau tanwin. Maksudnya bunyi nun mati/ tanwin dibaca samar-samar antara jelas dan dengung, serta cara membacanya ditahan sejenak. Hukum bacaan disebut ikhfa apabila nun mati/tanwin bertemu dengan salah satu huruf ikhfa yang jumlahnya ada 15 yaitu:

ت ـ ث ـ ج ـ د ـ ذ ـ ز – س ـ  ش ـ ص ـ ض ـ ط ـ ظ ـ ف ـ ق ـ ك

Contoh bacaan ikhfa:

No

Huruf

Nun mati (نْ )

Tanwin (ً  ٍ  ٌ   )

1

ت

فَمَنْ تَبِعَ

جَنّتٍ تَجْرِى

2

ث

فَمَنْ ثَقُلَتْ

شِهَابٌ ثَاقِبٌ

3

ج

اِنْ جَاءَكُمْ

خَلْقٍ جَدِيْدٍ

4

د

اَنْدَادًا

دَكًّا دَكًّا

5

ذ

مِنْ ذَهَبٍ

نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

6

ز

وَاَنْزَلْنَا

صَعِيْدًا زَلَقًا

7

س

أَلإِنْسَانُ

سَلمًا سَلمًا

8

ش

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

عَذَابٍ شَدِيْدٍ

9

ص

عَنْ صَلاَتِهِمْ

عَمَلاً صَالِحًا

10

ض

مَنْضُوْدٍ

مُسْفِرَةٌ ضَاحِكَةٌ

11

ط

مِنْ طَيِّبَاتٍ

بَلْدَةٌ طَيٍّبَةٌ

12

ظ

مِنْ ظُهُوْرِهِمْ

حُرَّاءً ظَاهِرَةً

13

ف

أَنْفُسِهِمْ

مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ

14

ق

مِنْ قَبْلِ

رٍزْقًا قَالُوا

15

ك

مَنْ كَانَ يَرْجُو

نَاِصيَةٍ كَاذِبَةٍ

B. Hukum bacaan Mim Mati ( مْ )

Hukum mim mati merupakan salah satu dari ilmu tajwid sebagaimana halnya hukum nun mati.

Mim mati atau mim sukun (مْ) apabila bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah maka memiliki tiga hukum bacaan, yaitu ikhfa syafawi, idghom mimi dan idhar syafawi.

1. Ikhfa Syafawi (اِخْفَاء شَفَوِيّ)

Ikhfa Syafawi adalah menyembunyikan  atau menyamarkan huruf mim.Hukum bacaan disebut ikhfa syafawi apabila mim mati atau mim sukun bertemu dengan huruf ba ( ب). Adapun cara membacanya harus dibunyikan samar-samar di bibir dan didengungkan.

Contoh:

Mim mati bertemu huruf ba’ :       وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ

Mim mati bertemu huruf ba’ :      تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ

2. Idghom Mimi ( اِدْغَامٌ مِيمِي)

Hukum bacaan disebut idgham mimi apabila mim sukun bertemu dengn mim yang sejenis. Cara membacanya adalah seperti menyuarakan mim rangkap atau ditasydidkan dan wajib dibaca dengung. Idgham mimi sering pula disebut idgham mitslain atau idgham mutamatsilain (idgham yang hurufnya serupa atau sejenis)

Contoh:

Mim mati bertemu huruf mim :       وَمَا لَهُمْ مِنَ اللهِ

Mim mati bertemu huruf mim :       اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ

3. Idhar Syafawi (اِظْهَارْ شَفَوِيِّ)

Idhar syafawi artinya apabila mim mati bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah selain huruf mim dan ba’, maka hukum bacaannya disebut idhar syafawi. Cara membacanya bunyi mim disuarakan dengan terang dan jelas tanpa berdengung di bibir dengan mulut tertutup.

Huruf-huruf idhar syafawi jumlahnya ad 26 huruf, yaitu:

ا ـ ت ـ ث ـ ج ـ ح ـ خ ـ د ـ ذ ـ ر ـ ز ـ س ـ ش ـ ص ـ ض ـ ط ـ ظ ـ ع ـ غ ـ ف ـ ق ـ ك ـ ل ـ ن ـ وـ ھ -ي

 No

huruf

kalimat

No

Huruf

Kalimat

1

ا

فَلَهُمْ اَجْرٌ

14

ض

وَامْضُوا

2

ت

15

ط

لَهُم طَعَامٌ

3

ث

16

ظ

ظَنَنتُمْ ظَنَّ السَّوءِ

4

ج

17

ع

وَلَهُمْ عَذَابٌ

5

ح

عَلَيْهِمْ حَافِظِيْنَ

18

غ

مَاءُكُمْ غَوْرًا

6

خ

هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

19

ف

لَهُمْ فِيْهَا

7

د

لَهُمْ دَارالاَخِرَةِ

20

ق

رَأَوْهُمْ قَالُوْا

8

ذ

رَبُّكُمْ ذُوْا رَحْمَةٍ

21

ك

اِنَّهُمْ كَانُوا

9

ر

اِيْلفِهِمْ رِحْلَةَ

22

ل

فَمَا لَهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ

10

ز

اَمْ زَيَّنّا السَمَاء

23

ن

اَلَمْ نَجْعَلْ

11

س

فَوْقَكُمْ سَبْعًا

24

و

عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ

12

ش

هُمْ شَرُّ البَرِيَّةِ

25

ھ

اَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا

13

ص

اِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ

26

ي

مَالَم يَعْلَمْ